Disebut Dapat Bantu Terapi Covid-19, Efektivitas Konsumsi Ekstrak Ikan Gabus Diteliti

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Disebut Dapat Bantu T

KOMPAS.com – Ikan gabus menjadi pembicaraan di tengah pandemi Covid-19. Ikan air tawar dengan nama latin Channia striata tersebut memiliki kandungan albumin yang dikatakan dapat membantu terapi pasien. Sebagai informasi, albumin merupakan senyawa protein yang dominan ditemukan dalam plasma darah. Mengutip penjelasan dari jurnal berjudul Physiology, Albumin (2020) yang disusun oleh peneliti dari Mayo Clinic Rajat N Moman, peneliti asal Columbia University Amerika Serikat (AS) Nishant Gupta, dan peneliti dari Penn Highlands Healthcare System AS Matthew Varacallo, albumin memiliki beragam fungsi dalam tubuh manusia. Salah satunya adalah menjaga tekanan onkotik atau tekanan yang membantu membawa cairan dan senyawa lain di dalam tubuh. Contohnya, sebagai pengantar obat-obatan ke dalam sel saat perawatan penyakit tertentu. Selain itu, albumin juga dapat mencegah inflamasi atau peradangan. Meski demikian, dalam perawatan medis, mayoritas pemberian albumin dilakukan melalui infus (intravena). Efektivitas konsumsi albumin secara oral pun diteliti oleh perusahaan bioteknologi Nucleus Farma.

Sejumlah peneliti dan praktisi dari beragam disiplin ilmu kesehatan dilibatkan dalam penelitian tersebut. CEO Nucleus Farma Edward Basilianus mengatakan, penelitian ini merupakan dukungan pihaknya sebagai perusahaan farmasi dan bioteknologi untuk mengatasi pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari satu tahun. Hal tersebut ia sampaikan dalam rilis yang diterima Kompas.com, Minggu (11/7/2021). Para peneliti dan pakar terdiri dari guru besar Farmakologi Bahan Alam dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Prof Dr apt Syamsudin M Biomed, dokter spesialis paru Lusi Nursilawati Syamsi, Sp P, praktisi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr rer nat Chaidir Amin, dan ahli statistika Dr Nurita Andayani. Adapun albumin oral yang menjadi obyek penelitian adalah produk suplemen Onoiwa MX. Untuk diketahui, Onoiwa MX memiliki komposisi ekstrak ikan gabus, daun kelor (Moringa oleifera), dan temulawak (Curcuma xanthoriza). Onoiwa MX dibuat dengan teknik enzymatic low pressure low temperature yang dipatenkan oleh Nucleus Farma. Teknik tersebut membuat molekul ekstrak lebih kecil dan dapat menjaga zat aktif obat lebih stabil. Dengan begitu, pengantaran obat tercapai dengan baik ke sel target.

“Nucleus Farma didukung dengan tim research and development yang kompeten di bidang pengembangan obat bahan alam dengan memahami drug mechanistic of action (MOA) dan memahami drug delivery mechanism sehingga dapat menghasilkan obat-obat yang lebih efektif dan on target,” ujar Edward. Hasil penelitian yang dilakukan pada November 2020 hingga Januari 2021 tersebut termuat dalam European Journal of Molecular and Clinical Medicine 2021, Volume 8, Issue 3, halaman 2945-2957 yang dipublikasikan pada Juli 2021. “Sebuah prestasi yang sangat membanggakan, produk asli Indonesia produksi Nucleus Farma dapat masuk ke dalam studi penelitian di dalam artikel jajaran jurnal internasional,” ujar Edward.

Melibatkan 48 pasien

Pegujian klinis efektivitas pemberian albumin secara oral dilakukan dengan metode single blind parallel study terhadap 48 pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Pasien yang menjadi partisipan penelitian dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberikan terapi standar hidroklorokuin 2×200 miligram (mg), injeksi azitromisin 1×500 mg, oseltamivir 2×75 mg, injeksi levofloxacin 750 mg, dan Onoiwa MX. Suplemen tersebut diberikan dengan interval tiga kali sehari selama tujuh hari. Kelompok pasien kedua diberikan hidroklorokuin 2×200 mg, azitromisin 1×500 mg, oseltamivir 2×75 mg, injeksi levofloxacin, ditambah kontrol 750 mg sebagai plasebo sebanyak tiga kali sehari selama tujuh hari.

Untuk memastikan efektivitas terapi, pemeriksaan tanda-tanda klinis dan vital dilakukan kepada pasien sebelum dan sesudah perawatan. Pemeriksaan selama perawatan dilakukan setiap lima hari sekali. Gejala klinis dipantau lewat tes darah lengkap, nilai protein C-reaktif, dan nilai D-dimer. Menurut Pedoman Tatalaksana Penanganan Pasien Covid-19, peningkatan nilai D-dimer pada pasien dapat memicu infeksi berkelanjutan hingga meningkatkan mortalitas. Dari hasil penelitian terhadap Oinowa MX yang dimuat dalam European Journal of Molecular and Clinical Medicine 2021, kombinasi albumin dalam ekstrak ikan gabus serta ekstrak temulawak dan daun kelor sebagai pendamping (adjuvan) terapi mengurangi parameter gejala klinis dan nilai D-dimer. Kombinasi ketiganya dapat menghambat masuknya virus ke dalam sel dan menargetkan obat pada sel. Temulawak dapat menetralkan aktivitas virus dan daun kelor menopang imunitas tubuh.

“Kami berkomitmen akan terus melakukan penelitian dengan memanfaatkan kekayaan alam asli Indonesia dan mendukung peningkatan ekonomi dengan menjadikannya obat natural yang siap bersaing di pasar global,” kata Edward. Hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan untuk Covid-19. Terapi yang saat ini digunakan, termasuk antivirus dan antibiotik, digunakan sebagai pereda gejala. Begitu pula albumin oral, diberikan bukan sebagai obat melainkan suplemen.

Penulis : Sheila Respati
Editor : Sheila Respati

Sumber Artikel : https://www.kompas.com/sains/read/2021/07/11/203700023/disebut-dapat-bantu-terapi-covid-19-efektivitas-konsumsi-ekstrak-ikan?page=all#page2.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *